Rabu, 09 Desember 2015

Ulumul Qur an


Makalah Tentang Makkiy dan Madaniy

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

            Para ulama dan ahli tafsir terdahulu memberikan perhatian yang besar terhadap penyelidikan surat-surat  Al-Qur’an. Mereka meneliti al-Qur’an ayat demi ayat dan surat demi surat untuk disusun sesuai dengan nuzulnya, dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat. Bahkan lebih dari itu, mereka mengumpulkannya sesuai dengan waktu, tempat dan pola kalimat. Cara demikian merupakan ketentuan cermat yang memberikan kepada peneliti obyektif, gambaran mengenai penyelidikan ilmiah tentang ilmu Makki dan Madani.

            Perhatian terhadap ilmu Al-Qur’an menjadi bagian terpenting para sahabat dibanding berbagai ilmu yang lain. Termasuk di dalamnya membahas tentang nuzulnya suatu ayat, tempat nuzulnya, urutan turunnya di Mekkah atau di Madinah, tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi termasuk kelompok Madani atau ayat yang diturunkan di Madinah tetapi masuk dalam kategori Makki, dan sebagainya. Pada intinya persoalan ini telah menjadi perhatian urgen pada masa sahabat (Al-Qathathan, 1996:72).

            Tema-tema seputar Makki dan Madani ini sangat banyak ragam penyelidikannya. Abu al-Qasim al Hasan al Muhammad bin Habib al-Nasyaburi menyebutkan dalam kitabnya al-Tanbib ‘ala fadll ‘Ulum al-Qur’an, bahwa di antara ilmu-ilmu al-Qur’an yang paling mulia adalah ilmu tentang nuzul al-Qur’an dan tempat turunnya, urutan turunnya di Mekkah dan di Madinah, tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi masuk dalam kategori Madaniyah dan diturunkan di Madinah tetapi masuk dalam kategori Makkiyah, tentang yang diturunkan di Mekkah mengenai penduduk Madinah dan yang diturunkan di Madinah mengenai penduduk Mekkah, tentang yang serupa dengan yang diturunkan di Mekkah (Makki) tetapi termasuk Madaniyah dan serupa dengan yang diturunkan di Madinah (Madaniyah) tetapi termasuk Makkiyah, dan tentang yang diturunkan di Juhafah, di Bayt al-Maqdis, di Tha’if maupun Hudaibiyyah. Demikian juga yang diturunkan di waktu malam, di waktu siang, secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri. Ayat-ayat Makki dan surat-surat Madani atau sebaliknya dan seterusnya; tema-tema itu keseluruhan berjumlah tidak kurang dari 25 pokok bahasan. Kesemuanya itu terkumpul dalam satu ilmu yaitu Ilmu Makki dan Madani.

            Tema-tema tersebut merupakan persoalan penting untuk didiskusikan dalam rangka mempeerdalam ilmu-ilmu al-Qur’an, namun demikian dalam tulisan ini tidak akan dibahas semuanya, melainkan hanya beberapa tema dasarnya saja yang dirasa sudah cukup sebagai pengantar. Hal demikian semata-mata memprtimbangkan keterbatasan tempat dan waktu. Dan bukan dalam artian memperkecil nilai tema-tema di atas.

B.   Perumusan Masalah

1.    Apa definisi Makky dan Madany?

2.    Apa perbedaan Makky dan Madany?

3.    Apakah ciri-ciri Makky dan Madany?

4.    Bagaimana klasifikasi surat-surat Al-Qur’an?

5.    Bagaimana faedah Makky dan Madany?

 

C.   Tujuan

1.    Mengetahui dan memahami definisi dari Makky dan Madani

2.    Mengetahui perbedaan antara Makky dan Madany

3.    Mengetahui cirri-ciri Makky dan Madany

4.    Mengetahui klasifikasi Makky dan Madany dalam surat-surat Al-Qur’an

5.    Mengetahui faedah Makky dan Madany


PEMBAHASAN

A.   Definisi Makky dan Madany

Kata Makki berasal dari kata “Makkah” dan Madani berasal dari kata “Madinah”. Secara harfiah, al-Makki atau al-Makkiah berarti yang bersifat Makkah atau yang berasal dari Makkah, sedangkan al-Madani atau al-Madaniah berarti yang bersifat Madinah atau yang berasal dari Madinah. Maka ayat atau surah yang turun di Makkah disebut dengan ayat-ayat al-Makkiah sedangkan yang diturunkan di Madinah disebut dengan ayat-ayat al-Madaniah.


Sedangkan menurut istilah, al-Makki wal-Madani berarti suatu ilmu yang secara kusus membahas tentang tempat, waktu dan periode turunnya surah atau ayat al-Quran, baik di Makkah ataupun di Madinah. Ayat atau surah yang turun pada periode Makkah disebut dengan al-Makkiah dan ayat/surah yang turun pada periode Madinah disebut dengan al-Madaniyah.

 

B.   Perbedaan Makky dan Madany

Untuk membedakan makki dengan madani, para ulama mempunyai tiga macam pandangan yang masing-masing mempunyai dasar.

 

1.      Dari segi turunnya. Makkyadalah yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di Mekah. Madanyadalah yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun bukan di Madinah. Yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun di Mekah atau Arafah adalah Madani, seperti yang diturunkan pada tahun penaklukan kota Mekah. Misalnya seperti firman Allah  yang artinya, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak …." (An-Nisa': 58). Ayat ini diturunkan di Mekah, dalam Kakbah pada tahun penaklukan Mekah. Atau, yang diturunkan pada haji Wada', seperti firman Allah, "Hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridai Islam menjadi agama bagimu." (Al-Maidah: 3).Dalam hadis sahih dari Umar dijelaskan, ayat itu turun pada malam Arafah hari Jumat tahun haji Wada'.Pendapat ini lebih baik dari kedua pendapat berikut, karena ia lebih memberikan kepastian dan konsisten.

 

2.      Dari segi tempat turunnya. Makkyialah yang turun di Mekah dan sekitarnya, seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyah.Dan, Madanyialah yang turun di Madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba, dan Sil. Pendapat ini mengakibatkan tidak adanya pembagian secara kongkret yang mendua, sebab yang turun dalam perjalanan, di Tabuk atau di Baitul Makdis, tidak termasuk ke dalam salah satu bagiannya, sehingga ia tidak dinamakan makki dan tidak juga madani. Juga mengakibatkan bahwa yang diturunkan di Mekah sesudah hijrah disebut makki.

 

3.      Dari segi sasarannya. Makkyadalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Mekah dan Madanyadalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Madinah. Berdasarkan pendapat ini, para pendukungnya menyatakan bahwa ayat Quran yang mengandung seruan yaa ayyuhan naas (wahai manusia) adalah makki, sedang ayat yang mengandung seruan yaa ayyuhal laziina aamanuu (wahai orang-orang yang beriman) adalah madani.

 

Namun, melalui pengamatan cermat, nampak bagi kita bahwa kebanyakan surah Quran tidak selalu dibuka dengan salah satu seruan itu. Dan ketentuan demikian pun tidak konsisten. Alquranul Karim adalah seruan Ilahi terhadap semua makhluk. Ia dapat juga menyeru orang yang beriman dengan sifat, nama, atau jenisnya. Begitu pula orang yang tidak beriman dapat diperintah untuk beribadah, sebagaimana orang yang beriman diperintahkan konsisten dan menambah ibadahnya.

 

C.   Ciri – ciri Makky dan Madany

Ciri-ciri ayat makkiah, adalah :

  1. Ayat dan surahnya pendek dan susunannya luwes dan jelas.
  2. Ayat-ayatnya lebih puitis (bersajak), karena yang ditantang adalah masyarakat yang ahli dalam membuat puisi.
  3. Al-makkiah banyak menyebut qasam (sumpah), tasybih (penyerupaan), dan amtsal (perumpamaan).
  4. Gaya bahasa al-makkiyah jarang bersifat konkret, realistis dan materialis, terutama ketika berbincang tentang kiamat.
  5. Surah-surah al-makkiyah mengandung lafadz kalla, yaitu di dalam al-quran lafadz ini berulang sebanyak 33 kali dalam 15 surah.
  6. Surah-surahnya mengandung seruan (يأيها الناس) “hai sekalian manusia”, dan tidak mengandung seruan (يأيها الذين آمنوا) “hai orang-orang yang beriman”.
  7. Mengajak kepada tauhid dan beribadah hanya kepada allah, pembuktian mengenai kebenaran risalah, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan mala petakanya, neraka dan siksaannya, surga dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniyah.
  8. Peletakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat; dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara zhalim, penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.

Ciri-ciri ayat madaniah adalah:

  1. Surah-surahnya memuat kewajiban atau had.
  2. Surah-surahnaya banyak menyebutkan orang-orang munafik, kecuali al-ankabut adalah al-makkiah.
  3. Al-madaniah adala setiap surah yang didalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab.
  4. Menjelaskan ibadah, muamalah, had/sanksi, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasional, baik diwaktu damai maupun perang, kaidah hukum, dan masalah perundang-undangan.
  5. Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan yahudi dan nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk masuk islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki di antara sesama mereka.

D.   Klasifikasi Surat-Surat Al-Qur’an

Para ulama ulumul qur’an sangat antusias untuk menyelidiki surat-surat makkiah dan madaniah, mereka mengamati al-quran ayat demi ayat dan surat demi surat untuk ditertibkan sesuai dengan nuzulnya, dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat. Pengklasifikasian makki dan madani para ulama tersebut adalah, sebagai berikut :

  1. Surah-surah yang diturunkan di makkah terdapat 82 surat makkiah, yaitu:

Al’alaq, Al-Qalam,Al-Muzammil, Al-Muddatstsir, Al-Masab (al-lahab), At-Takwir, Al-A’la, Al-Lail, Al-Fajr, Adh-Dhuha, Al-Insyirah, Al-‘ashr, Al-‘Adiyat, Al-Kautsar, At-Takatsur, Al-Ma’un, Al-Kafirun, Al-Fiil, An-Najm, ‘Abasa, Al-Qadar, Asy-Syams, Al-Buruj, At-Tin, Al-Quraisy, Al-Qariah, Al-Qiyamah, Al-Humazah, Al-Mursalah, Qaf, Al-Balad, Ath-Thariq, Al-Qamar, Shad, Al-A’raf, Al-jin, Yaasin, Al-Furqan, Fathir, Maryam, Thaha, Al-Waqi’ah, Asy-syura, An-Naml, Al-Qashash, Al-Isra, Yunus, Hud, Yusuf, Al-Hijr, Al-An’am, Lukman, Saba’, Az-Zumar, Ghafir, Fushshilat, Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-dukhan, Al-jatsiyah, Al-ahqqaf, Adz-dzariyah, Al-ghasyiyah, Al-kahf, An-nahl, Nuh, Ibrahim, Al-anbiya, Al-mu’minun, As-sajdah, Ath-thur, Al-mulk, Al-haqqah, Al-ma’arij, An-naba’, An-nazi’at, Al-infithar, Al-insyiqaq, Ar-rum, Al-ankabut, Ar-rahman, A l-insan.Turunnya surah-surah makiyyah lamanya 12 tahun, 5 bulan, 13 hari, dimulai pada 17 ramadhan 40 tahun usia nabi (februari 610 m).

  1. Surah-surah yang diturunkan di madinah terdapat 20 surat madaniah, yaitu:

Al-baqarah, Ali ‘imran, An-nisa’, Al-ma’idah,  Al-anfal, At-taubah, An-nur, Al –ahzab, Muhammad,  Al-fath, Al- hujurat,  Al-hadid,  Al-mujadilah,  Al-ashr,  Al-mumtahinah, Al-jumuah, Al-munafiqun, Al-talaq, At-tahrim, An-nas.

 

E.   Faedah Makky dan Madany

Al-Makky dan al-Madanysuatu ilmu yang harus dikuasai seorang mufassir dan mujtahid dalam mengistimbatkan hukum dalam al-Qur’an. Sebab, ilmu ini dapat membantu dan menghindarkannya dari kesalahanmemahami al-Qur’an. Di antara manfaat atau kegunaan ilmu Al-Makky dan Al- Madany,yaitu:

 

1.      Mudah diketahui mana ayat-ayat yang turun lebih dahulu dan mana ayatyang lebih dahulu dan mana ayat yang tuun belakangan dari kitab suci al-Qur’an.
 

2.      Mengetahui sejarah syariat. Ia dibebankan kepada umat secara berangsur-angsur. Terlihat misalnya, nuansa bimbingan ayat-ayat al-makkiyah kepada umat ini berbeda dengan ayat-ayat al-madaniyah. Sebab, periode sebelum hijrah merupakan tahap pertumbuhan karena itu perlu diberikan secara perlahan-lahan dan tidak merasa diberatkan. Sedangkan periode setelah hijriah merupakan tahap perkembangan, karena itu umat sudah siap menerima segala yang datang dari Allah. Dengan cara demikian, tidak ada para sahabat yang menentang ajaran Islam, mereka sepenuhnya tunduk kepada perintah Nabi. Hal ini perlu dipelajari oleh para tokoh masyarakat dalam mendidik dan membimbing bangsa ini kejalan yang benar.

 
3.      Menanamkan keyakinan kepada umat, dari sudut sejarah, mengenai keabsahan al-Qur’an. Ia datang dari Tuhan, bersih dari penyimpangan dan perubahan. Para ulama sangat besar perhatiannya kepada al-Qur’an,sehingga mereka tidak hanya mengetahui, mencatat dan mengkaji ayat-ayat saja, tetapi juga mengetahui dan mempelajari ayat-ayat yang turun setelah dan sebelum hijrah, ayat yang turun disiang hari, malam hari,ditempat Nabi tinggal, dalam perjalanan, pada musim panas, musim dingin dan lain sebagainya. Hal ini misalnya, tergambar dalam ungkapan Ibnu Mas’ud. Dia mengatakan, “demi Allah seseorang lebih mengetahui, tiada tuhan selain Dia. Tidak satu pun surat al-Qur’an yang turun kecuali aku tahu dimana ia diturunkan. Tidak ada ayat yang turun, kecuali aku mengetahui mengenai apa ia diturunkan. Jika ada seseorang yang lebih mengetahui tentang Kitab Allah dari padaku, dan tempat tinggalnya dapat dicapai dengan unta, maka aku akan pergi ke tempat itu”.

 

PENUTUP

 
Kesimpulan

Kata Makky berasal dari kata “Makkah” dan Madani berasal dari kata “Madinah”. Secara harfiah, al-Makky atau al-Makkiah berarti yang bersifat Makkah atau yang berasal dari Makkah, sedangkan al-Madany atau al-Madaniah berarti yang bersifat Madinah atau yang berasal dari Madinah. Maka ayat atau surah yang turun di Makkah disebut dengan ayat-ayat al-Makkiah sedangkan yang diturunkan di Madinah disebut dengan ayat-ayat al-Madaniah.

          Pengetahuan tentang ayat-ayat Mekkah dan Madinah merupakan bagian yang terpenting dalam ‘Ulum Qur’an. Hal ini bukan saja merupakan kepentingan kesejarahan melainkan juga untuk memahami dan menafsirkan ayat-ayat yang bersangkutan.

          Adapun kegunaan mempelajari Ilmu ini antara lain agarmudah mengetahui mana ayat-ayat yang turun lebih dahulu dan mana ayat yang lebih dahulu dan mana ayat yang turun belakangan dari kitab suci al-Qur’an.
 

DAFTAR PUSTAKA

 
Anas,H.A.2008.Kaidah-kaidah ulumul qur’an. Pekalongan: Al Asri

 
Hatta,med.2012.makki dan madani dalam al qur’an. http://mybukukuning.blogspot.com/2012/02/ulumul-quran-5-makki-dan-madani.html.
diakses tanggal 13 September 2015 pukul 21.30.

 
Munajir.2012.Perbedaan makki dan. Madani.http://rinduagama.blogspot.com/2012/01/perbedaan-makki-dengan madani.html. diakses tanggal 13 September 2015 pukul 22.25.

 
Sekyuna.2014.Al makky dan Al Madany.https://sknal.wordpress.com/2014/12/12/al-makky-al-madany.html.diakses tanggal 14 September 2015 pukul 19.40.

 
Pratiwiretno.2013. Makky dan madany.http://sriwidowatiretnopratiwi.blogspot.com/2013/12/al-makky-wa-al-madany.html. diakses tanggal 14 September 2015 pukul 20.00.

 
Ridwan.2012.ilmu makky wal madany.https://ridwan202.wordpress.com/istilah-agama/ilmul-maki-wal-madani/html. diakses tanggal 14 September 2015 pukul 21.00.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar